Tebing Megah Pinggir Pantai di Ujung Pesisir Barat

Postingan om Budhi Marta Utama alias @paralampung tanggal 12 Maret 2016 di akun Instagramnya berhasil membuat saya terkagum dan “kepo”. Sesepuh fotografer di Lampung ini mengunggah foto tebing megah berhadapan langsung dengan laut ber-caption “The Hidden Paradise” dan tagar #pesisirbaratsumatera #lampung. Jelas sekali kalau foto tersebut diambil dari ketinggian, sudah pasti om Budhi memotret sambil terbang menggunakan paramotornya. Jauh hari sebelumnya sudah pernah melihat foto serupa yang diupload beliau di akun Facebooknya, dan sempat saya komentar mempertanyakan lokasi tempat tersebut, dan jawabannya cuma sebatas “ada dech”.

Sungguh mati aku penasaran, sampai mati pun akan kuperjuangkan, syair sang penyanyi dangdut, hingga akhirnya beberapa bulan yang lalu mulai viral di sosial media terutama Instagram. Foto dari beberapa akun instagram berada di lokasi  serupa dan tertulis Pantai Tanjung Jati, yang menjadi salah satu pekon/desa di Kecamatan Lemong, Pesisir Barat. Minggu, 1 Juli 2018, saya dan beberapa teman yang ada di Krui, langsung meluncur menuju lokasi yang menjadi incaran saya sejak lama.

Dengan bersepeda motor dari Kota Krui menyusuri jalan lintas barat ke arah Bengkulu, sekitar satu setengah jam perjalanan Kami melihat papan penunjuk jalan yang mengarah pada Pekon Lemong, Tanjung Sakti dan Tanjung Jati (meskipun sebenarnya ada kawan lokal yang sudah lebih dulu mengetahui lokasi tersebut). Dengan sigap para pilot motor membelokkan motornya ke arah kiri mengikuti papan petunjuk tersebut. Berselang kurang dari setengah jam mengikuti jalan, dan yang pasti dengan bonus pemandangan pantai yang terlihat di sepanjang jalan, sampailah di penghujung jalan.

Bersantai melepas lelah perjalanan

Dengan memarkirkan motor yang tidak jauh dari lokasi tebing, berjalan beberapa saat menyusuri pantai, sampailah di pantai dengan view tebing yang cukup luas dan lumayan tinggi. Terkagum pasti, sembari duduk melepas lelah perjalanan, kami menikmati sejenak pemandangan alam ciptaanNya yang sungguh menarik untuk dipandang. Samsu dan Yogi terinisiatif untuk mencari ikan dan kawan yang lain, Pardo si Hotang dan Galuh si Akay dengan semangat mengumpulkan kayu kering untuk memanggang ikan, walaupun sebenarnya amunisi cemilan sudah dibawa.

Bakar ikan tongkol segar

Lanjut, semua sudah sibuk masing-masing dengan senjata motretnya dan mondar-mandir mencari spot terbaik. Ada pula yang langsung berendam mandi laut, bahkan Deta sang pewarta juga sibuk mencari spot khusus untuk membuat hajat yang sudah di ujung tanduk. Dari kejauhan terlihat Bang Aries dan Tama yang sedang “bertarung sengit”, mungkin berebut kekuasaan spot foto. Yahh begitulah, musti asik dan menghibur diri agar liburan akhir pekan menjadi lebih menyenangkan.

Pertarungan sengit bang Aries dan Tama
Pasukan Penawar Durian

Ikan tongkol sudah matang dan langsung disantap, cemilan-cemilan pun sudah ludes duluan, stok foto sudah pula dirasa cukup. Matahari sudah mulai terasa panas di atas kepala, akhirnya kami memutuskan bergeser untuk hunting durian, karena menurut kabar burung yang beredar di Utara Pesisir Barat memang sedang musimnya.

Akhirnya penutup hunting Tebing Pantai Tanjung Jati ditutup dengan kopi durian yang nikmatnya tiada tara. Selanjutnya, biarkan foto dan video yang berbicara lebih banyak.

Pengerjaan pembuatan tambak di samping Tebing

Catatan :
Ada pengerjaan pembuatan Tambak Udang di samping dari Tebing Pantai Tanjung Jati, yang menurut saya itu akan berdampak kurang baik bagi ekosistem sekitar. Apalagi potensi wisata tempat tersebut amat besar dengan segala keindahanya. Semoga peran penting pemerintah disini bisa membawa Pesisir Barat selalu terdepan sebagai tujuan wisata andalan Provinsi Lampung. Aamiin….

Gerhana Bulan Terlama Abad Ini !!!

Gerhana Bulan berdurasi terpanjang di abad 21 ini, 103 menit lamanya. Yeah, informasi yang sudah menyebar dari berita online maupun media sosial, seperti Instagram, Twitter, Facebook dan mungkin saja juga Friendster yang sudah entah dimana rimbanya sekarang. Peristiwa yang memiliki kemiripan dengan gerhana yang terjadi di tahun 2000 dan bakal terulang di tahun 2036 mendatang, benar saja banyak yang bilang malah  ini peristiwa langka dan sangat sayang untuk dilewatkan.

Amunisi menemani malam Gerhana Bulan

Sabtu, 28 Juli 2018 dini hari bakal jadi malam yang panjang, menunggu momen perubahan  purnama menjadi gerhana. Dan sudah  saya putuskan untuk membunuh waktu di Anjung Katoeng, kediaman Cik To ketua Kruimotret (Komunitas Fotografi di Krui, Pesisir Barat). Amunisi tambahan, seperti durian, kopi Liwa dan ubi yang siap dibakar sudah disiapkan untuk menemani amunisi utama, yaitu kamera, lensa tele dan tripod.

Terkumpul empat personil KruiMotret, Cik To sang ketua, saya, Deta dan Agung yang sudah siap sedia di Anjung Katoeng, meskipun yang motret dan siap senjata  hanya  saya dan Cik To.

KopDur (Kopi Duren)

Sedangkan kedua personil lain  selalu asik masing-masing dengan game pertempuran yang sedang menjangkit seluruh umat manusia. Pukul 23.00 WIB, saya mencoba melakukan pamanasan dengan memotret bulan yang memang sedang bulat-bulatnya kayak tahu yang digoreng dadakan. Langit sepertinya sedikit berawan, jadi harus menunggu waktu yang tepat untuk mengambil gambar saat bulan tidak terhalangi awan sambil terus berharap langit akan cerah nanti saat gerhana bulan mulai terjadi.

Memfoto bulan butuh lensa dengan Focal Length yang panjang, tidak akan maksimal jika memakai lensa kit atau standar. Lensa dengan FL 70-300 yang dimiliki, saya rasa cukup  meskipun nantinya butuh cropping lagi, setidaknya lumayan untuk menangkap guratan-guratan jerawat sang rembulan. Dan yang pasti butuh tripod untuk menstabilkan kamera saat mengambil gambar, karena terkadang memaksakan setingan dengan  speed rendah, terlebih jika langit berawan dan menghalangi bulan. Jika kondisi cerah dan memakai tripod, setingan ISO 100, F 8-10, speed 100-200 akan mendapatkan foto bulan yang sempurna.

Cikto sang Ketua ditemani si Cibu, sedang asik mencari keberadaan sang Rembulan

Kopi duren sudah ludes dan sedang diproses  perut, sang ubi sedang dalam proses pembakaran, dini hari mulai tiba dengan ditemeni suara musik “poki-poki” yang selalu berhasil menggoyangkan jari-jemari terdengar dari kejauhan (biasanya ada yang sedang berpesta/acara).

Sesuai dengan infodari BMKG, pukul 00.13 WIB gerhana bulan  dimulai. Dan benar saja, sang rembulan mulai “termakan” sedikit demi sedikit, membuat saya  Dan Cik To sibuk bercumbu dengan kamera untuk mencari setingan kamera yang tepat. Dengan terus mengikuti pergerakan bulan menuju ke barat, layaknya sang kera sakti mencari kitab suci, hingga di Pukul 01.24 WIB fase U1 dimana Gerhana Bulan Sebagian tiba.

Untung ada ubi yang telah menghitam karena bara api, menemani detik-detik datangnya Gerhana Total Mulai di pukul 02.30 WIB yang disebut fase U2 (yah meskipun dengan resiko produksi angin belakang meningkat). Di fase ini membutuhkan kerja keras dari kamera dan lensa, karena meskipun bisa dilihat dengan mata telanjang tak berpakaian, namun dengan kondisi mata yang minus ditambah fungsi liveview layar kamera tidak sanggup menangkap cahaya bulan gerhana, itu amat sangat menguras tenaga dan fikiran (berasa ujian skripsi, padahal lulusan DIII).

Pukul 03.15 WIB awan gelap menyelimuti langit Krui, Pesisir Barat, sudah menunggu beberapa saat dengan harapan akan cerah kembali, namun tetap saja sang langit menggajak, Dan seketika  mematahkan semangat kami untuk memotret, padahal Puncak Gerhana di pukul 03.22 WIB. Seperti biasa, alam tidak bisa dilawan namun  tetap bersyukur sudah bisa mengabadikan dan menjadi saksi hidup terjadinya Fergana  Bulan Total yang menjadi fenomena langka ini, yang bisa menjadi cerita anak cucu kelak. Jangan lupa sholat khusyuf dan selalu berdoa agar dilindungi oleh-Nya dari segala marabahaya, aamiin ya robbal ‘alamin.